My First Carpet Python

Senin, 17 Mei 2010

Morelia spilota variegata Irian Jaya Carpet Python

Carpet python yang berasal dari tanah papua Irian Jaya!! ...Carpet python dewasa biasanya hanya mencapai 1.5 - 1.7 meter panjangnya, biasanya carpet betina lebih besar dari jantan yaitu 1.7 - 2.3 meter.
Pola warna dapat bervariasi dari hitam ke kuning terang dan hitam pekat. Mereka adalah ular bertubuh relatif tipis, dan memiliki ekor yg dapat memegang untuk membantu mendaki/menaiki pohon. Semua spesimen memiliki perut putih, sering juga ada yang berbintik-bintik hitam. Ular ini bersifat semi-arboreal dan habitat alami mereka adalah hutan tropis. Carpet bisa hidup selama 10-20 tahun, makanan favoritnya di alam (hutan) bisa burung, tikus, bayi tikus, puyuh dan ayam.


Ular ini dikenal karena warna mereka terang, kadang lebih terang dari semua Morelia (kecuali untuk Green Tree Python, Morelia viridis). Ular ini sering disimpan dan di pelihara masyarakat pedalaman.
tubuhnya berukuran sedang, kepala nya telah disamakan dengan kepala naga. Carpet termasuk ular pohon, memiliki ekor yang dpt memegang untuk membantu mereka dalam arboreal (hidup di pohon/selalu bertengger/mencari makan). Mereka tidak sepenuhnya arboral seperti Boa/mono pohon, tetapi mereka akan naik jika ada kesempatan menangkap mangsa atau dalam keadaan terjepit (seperti di buru manusia). Ular python hutan karpet (jungle carpet) ini rata-rata berwarna bercak warna kuning-cokelat di atas dasar hitam dengan bawah putih tegas, warna akan terlihat bagus bila sudah mencapai dewasa pada umur dua atau tiga tahun. Umumnya ular ini aktif atau mencari makan pada malam hari.

Habitat : Ular ini sangatlah lihai dalam meloloskan diri. Jika ingin memelihara harus ada sebuah kandang yang layak untuk ular ini, yang dewasa kandangnya saya sarankan lebih besar lebih baik, jadi saya akan merekomendasikan akuarium dengan setingan tropis agak lembab, ventilasi yang baik untuk keluar masuknya udara. Hal ini untuk memastikan kandang tidak mengering.

Mereka tidak agresif, tetapi defensif, dan sifatnya ketika muda lebih sering menggigit. Dan mereka kemudian lebih cenderung suka bersembunyi

Baca Lanjutannya.. Read more...

Video Tokek 1

Rabu, 12 Mei 2010

video

Ni vidio tokek, cuma mau ngambil dari tempatnya, dan untungnya lagi gak agresif,, tapi sayang kualitas gambarnya gak bagus.. lain kali gw pasti buat yang lebih bagus lagi gambarnya, thanx for watching..haha

Baca Lanjutannya.. Read more...

Inclusion Body Disease (IBD)

Minggu, 09 Mei 2010

Apakah IBD itu?

IBD merupakan suatu hal yang telah lama ada dalam pemeliharaan boa dan python di captivity, akan tetapi keberadaannya sendiri baru disadari oleh publik baru-baru ini. IBD dipercaya sebagai penyakit yang disebabkan oleh retrovirus dan sepertinya hanya menyerang anggota dari keluarga “boid”, seperti python dan boa. Penyakit ini mempengaruhi dua grup ular tersebut dengan berbagai cara yang berbeda akan tetapi kondisi yang diakibatkan akan selalu fatal ketika ular mulai menampakkan gejala-gejala yang diakibatkan oleh penyakit ini.

Ular bisa saja tidak menampakkan gejala-gejala apapun tetapi tetap saja menjadi pembawa dari penyakit ini – Boa, sebagai contoh, sering menjadi sarang dari penyakit ini tanpa menampakkan gejala-gejala terkena penyakit. Maka bila seekor ular yang dikandangkan dengan ular lain yang telah terinfeksi tidak menunjukkan adanya gejala-gejala apapun, bukan berarti ular tersebut kebal terhadap penyakit ini – ia tetap dapat menjadi sumber infeksi pada ular-ular lainnya yang masih sehat.

Penyakit ini diyakini disebabkan oleh “inclusion bodies” (sejenis retrovirus) yang diidentifikasi terdapat dalam sel epithelial dari ginjal dan pancreas ular yang terjangkit. IBD juga dikaitkan dengan degenerasi neuronal dan luka pada saraf tulang belakang dan otak, yang nantinya akan menyebabkan denegerasi myelin dan kerusakan pada saraf. Dalam beberapa kasus, ular yang terjangkit oleh IBD juga ditemukan terinfeksi oleh kutu ular, Ophionyssus natricis, akan tetapi karena keberadaan dari parasit ini tidak selalu hadir pada semua kasus IBD yang terjadi, maka hubungan sebab akibat yang pasti antara parasit ini dan IBD tidak dapat dibuat.

Host

Penyakit IBD sendiri telah diidentifikasi pada ular-ular dari keluarga boid di bawah ini, antara lain berbagai subspecies boa constrictor (Boa constrictor), green anaconda (Eunectes murinus), Haitian boa (Epicrates striatus), Burmese python (Python molurus bivittatus), Indian python (P. m. molurus), reticulated python (P. reticulatus), ball python (P. regius), carpet python (Morelia spilota) dan diamond python (M. s. spilota). Sebagai tambahan, penyakit yang mirip dengan IBD didiagnosa pada seekor eastern king snake (Lampropeltis getulus) yang dikandangkan dengan boa constrictor dan pada palm vipers (Bothriechis marchi).

IBD biasanya ditemukan pada ular-ular juvenile hingga ular dewasa, akan tetapi tidak menutup kemungkinan ular yang baru lahir (neonate) dapat terinfeksi juga.

Distribusi

Menyebar di seluruh dunia pada ular-ular dari keluarga boid yang ada dalam pemeliharaan. Kebanyakan kasus IBD terjadi di U.S namun kasus-kasus IBD baru-baru ini ditemukan pada captive pythons di Australia, Canary Island, dan Italia. Transportasi ular dalam perdagangan hewan dan transportasi ular dari institusi-institusi kebun binatang yang berbeda dipercaya menjadi sebab tersebarnya penyakit ini di seluruh dunia.

Sampai saat ini tidak diketahui apakah inclusion body disease juga muncul pada boa dan python di alam liar, atau secara exclusive hanya terjadi pada ular di pemeliharaan (hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut).

Gejala

Python dan boa memperlihatkan gejala yang sedikit berbeda, dimana penyakit berkembang lebih lambat pada boa.

Tanda-tanda infeksi IBD di Boa antara lain kekacauan pada sistem saraf pusat seperti lumpuh, tidak dapat mengembalikan posisi badannya ke arah semula ketika posisi badannya terbalik, “star-gazing” (posisi kepala ular tegak ke arah atas menatap langit), ketidak mampuan untuk menyerang atau membelit mangsanya – atau bahkan hanya pada kelumpuhan saja. Gejala-gejala lain yang terjadi di Boa adalah penurunan berat badan secara ekstrim, menderita muntah kronis, serta infeksi pernafasan. Dysecdysis yang disebabkan oleh ketidak mampuan ular untuk mengontrol gerakan tubuhnya dalam melepas kulit lama-nya.

IBD berkembang secara lebih agresif pada ular python, selain gejala-gejala yang telah dijelaskan untuk boa di atas (terkecuali muntah kronis), python juga mengalami “mouth rot” (infectious stomatitis), disorientasi dan hilangnya kordinasi otot serta respon refleks yang terlalu tinggi atau terlalu besar.

Baik pada Python ataupun Boa, penyakit ini berkembang sangat cepat dan berakibat fatal pada ular-ular juvenile. Dimana kematian dengan cepat terjadi setelah dimulainya kelumpuhan ringan pada ular.

Daya tahan Virus di luar inangnya

Berdasarkan apa yang telah diketahui tentang virus pada saat ini, maka disinfektan berbasis alkohol (e.g. Sagrotan, Desderman, Microzid) akan melenyapkan virus. Sebagai retrovirus, IBD tidak akan bertahan di luar tubuh inangnya untuk jangka waktu yang lama.

Pencegahan

Sampai sekarang tidak ada pengobatan untuk penyakit ini, dan dikarenakan penyakit ini selalu berakibat fatal dan sangat menular, maka euthanasia pada ular yang positif terjangkit oleh IBD merupakan tindakan yang dianjurkan. Sekalipun ular dapat dijaga agar tetap hidup melalui tindakan-tindakan seperti force feeding dan hydration, kerusakan yang terjadi pada saraf, otak, saraf tulang belakang dan organ-organ dalam sangatlah besar – sehingga biarpun ular tetap hidup tetapi kualitas hidup ular itu sendiri akan semakin menurun yang juga disertai dengan meningkatnya rasa sakit pada ular.

Dikarenakan belum adanya pengobatan untuk penyakit ini dan penyebarannya yang seperti virus, maka tindakan yang dapat dilakukan untuk menimalisir resiko masuknya IBD ke ular peliharaan kita adalah dengan melakukan aksi-aksi pencegahan, antara lain:

■Hanya menempatkan satu ular dalam satu kandang.
■Penggunaan satu macam barang untuk tiap satu kandang (tempat minuman, hook, dan lain-lain).
■Hindari pemberian makanan yang telah ditolak oleh satu ular kepada ular lainnya.
■Pembasmian kutu.
■Melakukan tindakan euthanasia pada ular yang telah positif terjangkit oleh IBD.
■Melakukan disinfeksi kandang dan peralatan secara berkala.
■Mencuci tangan setelah dan di antara penghandlean satu ular sebelum menghandle ular lainnya.
■Kandang yang terbuat dari kayu polos (tidak dilapis melamine dan semacamnya) harus disingkirkan, apabila ular yang telah terkonfirmasi terjangkit IBD tinggal di dalamnya.
Karantina secara ketat untuk setiap ular jenis Python dan Boa yang baru kita dapat, paling tidak untuk jangka waktu 3-6 bulan dan jika anda telah memiliki pet Python maupun Boa, selalu berhati-hati dan waspada setiap mengunjungi toko hewan peliharaan, pameran reptil, ataupun melihat-lihat koleksi reptil orang lain.

Diterjemahkan dan diambil dari berbagai sumber.

Retrovirus yang terdapat pada Boa constrictor yang terkena IBD

























Tanda-tanda IBD











































































All pictures are taken from: http://www.vetmed.ufl.edu
Pembahasan tentang IBD:

■http://www.vetmed.ufl.edu/college/depar … Virus.html

■http://www.boaconstrictors.com/com/Haltung/IBDEng.htm

■http://www.reptileexpert.co.uk/BodyIncl … sease.html

■http://www.anapsid.org/ibd.html





Sumber : Reptilx.com

Baca Lanjutannya.. Read more...

Skin

Sabtu, 08 Mei 2010

Wah, sekarang mau posting tentang ganti kulit ular, tapi, yang biasa gue tau aza dehh,,,ok guys.

pertama-tama ciri-ciri ular mau ganti kulit biasanya selalu berendam, mata dan kulitnya lebih buram warnanya dari biasanya, kadang gak mau makan, trus kadang juga dia (si ular) gak bisa diem seperti ular Python Buton ku, dia juga suka kebersihan, kalo kandangnya kotor dia suka gelisah minta di bersihin, dduduh,,, ular yang manjaa...he




Biasanya Ular peliharaan gue kalo tiba ganti kulit sii...hmmm kadang didiemin aja gak usah dipegang-pegang, trus kelembabanya harus sedikit ditinggkatin.
Karena kalo ganti kulit biasanya dia butuh sedikit kelembaban ekstra, butuh air lebih banyak untuk pergantian kulitnya nanti..





Bisa juga di semprotkan air yang sedikit hangat untuk kulitnya (fungsinya agar lebih lembab kandangnya) dan prosesnya lebih cepat lebih baik (JK) hehe...

Proses pergantian kulit untuk Ular biasanya sebulan, bisa lebih tergantung jenis dan ukuran, gak cuma ular gue, tapi Tokek-tokek gue juga ganti kulit, bedanya kalo tokek langsung memakan kulit matinya untuk menambah kalsium dan sedikit protein untuk kelangsungan hidupnya!!!

kalo ular,,,hmmm buat apa yahh ...di buang lah. masak buat bikin tas atau spatu kulit?,,ckckck (kulit ular bentuknya seperti plastik tipis, kalau sudah melepaskan dari tubuhnya)


Kalau bisa gue saranin Jangan ikut campur tangan membantu proses ganti kulit, gak usah dimanja bro, tetapi ada pengecualian ...Apabila terlihat sulit untuk melepaskan memang kita "terpaksa" sedikit membantu (soalnya ada kasus ular ternyata bisa mati bila gagal ganti kulit, ada yang double-double kulitnya)...wah kasian juga ya maka dari itu harus di pantau se-segera mungkin untuk sering-sering melihat keadaan ular kesayangan kita!!!






Dan terakhir, Ular yang udah ganti kulit akan terasa lebih halus, lebih cemerlang, lebih manteb dahh pokoknya!!!







Baca Lanjutannya.. Read more...

IN LOVING MEMORY

Minggu, 02 Mei 2010

This is my lovely great Dipong!!!



Dipong yang keren banget tabiatnya, motifnya, gak nyusahin, manteb dahh...
Umurnya cuma setahun lebih dikit, gue pelihara dari bebi bangets, yahh apa boleh buat umurnya ternyata gak lama,






Namanya Dyco , ular jenis Python atau Dipong Sumatra yang lucu bangets sewaktu kecilnya, sudah pernah ikut berbagai kontes sewaktu kecil, walau gak menang-menang (hehe...) tapi gak tau kenapa gue suka banget ama ni ular,








Dyco first Rat


Ini gambar Dyco makan Rat ukuran sedang lumayan gede juga sii, ehh mau, ini jauh hari sebelum sakit flu nya...











Dikarenakan sakit flu, kebetulan gue lagi di Bali yah jadinya gak mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya, kebetulan ada temen gue yang sempet gue suruh kerumah buat ngeliat reptil-reptil peliharaan gue di Jakarta, ehh, gak disangka tak di nyana ternyata ud tak bernyawa katanya. wuiihh. sedih juga,,,




Well Good bye my friend,, Rest in Peace yaw!!!!


Hayoo yang pelihara Dipong harus lebih di jaga lagi kelembabannya!
Smangat ya...

GO REPTIL INDONESIA

Baca Lanjutannya.. Read more...

Click to Save the Rainforest

Save the Rainforest

Click to Stop Global Warming

Stop Global Warming

This site sponsored

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP